بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Oleh:
Oleh:
INDRA ASNIANTO
12020074010
/ PA 2012
Kupersembahkan hadiah
kecil ini kepada Allah SWT yang telah memberi Kekuatan padaku, dan hari lahir
ayahku tersayang, semoga panjang umur & sehat selalu, serta ibuku tercinta yang
selalu mendoakanku. Semoga berbahagia dan sukses selalu :*
AYAH
KAULAH PANUTANKU !!
DIDIKANMU TIADA BATAS
Ayahku
adalah anak pertama dari lima bersaudara. Beliau biasa dipanggil dengan sebutan
Nanang. Beliau dilahirkan melalui proses persalinan normal dengan berat badan 3
kg dan panjang 51 cm pada tanggal 16 Oktober. Panggilan
Nanang diberikan karena
Ayahku adalah anak
laki-laki. Tempat tinggalnya tidak berpindah-pindah mulai dari
lahir sampai sebelum menikah yaitu tepatnya di
Jalan Pahlawan Gapuro nomor 14 Gresik. Kehidupan keluarganya sangat sederhana. Selisih umur antara anak yang
satu dengan yang lain hanya berselisih 2
s.d. 3 tahun. Beliau
dan saudara-saudaranya sangat menghormati orang
tuanya, karena didikan orang tuanya yang selalu memberikan suri tauladan yang baik bagi
anak-anaknya
untuk bekal kehidupan kelak. Dan yang paling utama adalah orang tuanya
selalu mendoakan agar
selalu diberikan kemudahan dan kelancaran
dalam segala hal, meskipun keadaan ekonomi keluarga yang serba sederhana,
mereka tidak pernah menyerah
dan putus asa.
Lantaran kedua orang tua Ayahku
sibuk bekerja anak-anaknya diasuh oleh kakaknya sendiri. Dan apabila
anak-anaknya ada yang
pergi ke sekolah, anak yang masih kecil dititipkan kesaudara Ayahku. Beliau dibesarkan
dengan pola didik keluarga yang demokratis, sehingga anak-anaknya selalu
penurut.
Hal tersebut juga saya alami saat ini yaitu hidup yang super disiplin dan segalanya
serba teratur. Terkadang hati ini rasanya ingin berontak dan berteriak keras. Pernah
terjadi suatu kejadian ketika aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama
(SMP) tepatnya kelas VIII, waktu belajar kelompok aku mengendarahi sepeda motor
di jalan raya, aku dipukul dengan sapu lidi hanya karena belum mempunyai Surat
Izin Mengemudi (SIM), padahal jarak antara tempat tinggal dengan sekolah tidak
seberapa jauh. Berangkat dari situlah saya tidak pernah menggunakan sepeda motor di jalan raya
sebelum mempunyai SIM. Hal tersebut tidak pernah lupa dalam benak otakku. Seiring
berjalannya waktu aku selalu berpikir bahwa didikan Ayahku itu benar karena aku
dididik hidup disiplin yang selalu dalam pemantuan untuk bekal hidup dimasa depanku
esok.
Pada
waktu duduk di bangku
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
kelas VII,
Ayahku dititipkan
Ibunya
kesebuah pekerjaan konveksi pakaian, yang tepatnya di daerah Gresik dan tidak
jauh dari rumahnya. Alasan Ibunya
menitipkan beliau
untuk bekerja di sebuah konveksi itu adalah untuk
membantu biaya sekolah dan sisa uangnya untuk keperluan keluarga. Ketika sedang bekerja,
banyak hal-hal yang telah dilakukannya, diantaranya selalu
peduli dengan fakir miskin yang datang untuk meminta sedekah. Sosok Ayahku sangat mempunyai
rasa empati yang besar,
walaupun di tempat konveksi itu banyak pekerja lebih kurang 14
orang, tetapi
mereka hanya mempunyai rasa empati yang kecil. Seharusnya, para pekerja disitu
harus tanggap pada lingkungan
sekitar, karena pimpinan konveksi itu tidak berada pada satu
tempat kerja dan di tempat itu hanya khusus untuk bekerja saja.
Ayahku
meletakkan uang yang akan diberikan kepada fakir miskin pada
suatu tempat, hal itu dilakukan
karena
tidak mempunyai dompet. Uniknya, Ayahku menyimpannya
hanya ditempatkan dilubang luar rumahnya, kemudian ditutup dengan pasir dan
lubang itu hanya diisi dengan uang kericik (logam). Selain itu uang gajian yang beliau terima
diletakkan di
tempat bekas deterjen. Jadi adik-adiknya jikalau
meminta uang kepadanya,
cukup mengambil dari tempat bekas deterjen tersebut,
dengan syarat harus menulis apa yang diperlukan. Misalnya krupuk
dan kecap untuk lauk makan,
dsb. Hal ini juga terjadi pada kehidupanku saat ini, segala pengeluaran
berbentuk apapun harus ada rinciannya, agar selalu bersikap jujur dan bisa memanajemen
uang secara maksimal. Ayahku setiap hari selalu memberikan masukan dan arahan-arahan.
Ibaratnya “Tiada Hari Tanpa Ngomel” Itulah sosok Ayahku yang sesungguhnya,
tetapi hal itu tidak membuatku bosan mendengarnya melainkan membuatku berpikir
selangkah lebih maju dan harus didasari sikap positif.
Pekerjaan
yang beliau lakukan di
tempat konveksi, dimulai sekitar
pukul 14.00 sepulang sekolah hingga pukul 16.30, Bila ada pekerjaan yang
banyak, maka
Ayahku harus lembur dan dikerjakan mulai pukul 20.00 s.d. 24.00. Jenis
pekerjaan tersebut secara umum adalah konveksi baju tetapi
pekerjaan yang dilakukan
sendiri
yaitu membuat lubang kancing,
memasang kancing dengan jarum, mengobras pakaian,
menjahit bagian bawah baju, melipat baju,
dan dimasukkan kedalam plastik kemudian dijadikan satu
untuk dimasukkan ke dalam karung.
Semua pekerjaan itu dilakukan dalam kurun waktu dua tahun
setelah lulus
SMP.
Setelah lulus SMP,
beliau tidak dapat melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga beliau langsung
bekerja.
Akhirnya Ayahku
melamar
pekerjaan di sebuah perusahaan yaitu PT
Nusantara Plywood (Pabrik Kayu Lapis). Pada tahun 1977, ketika Ayahku
mengambil cuti sebanyak 12 hari, Ayahku
mempergunakan waktu tersebut untuk tes militer dan sujud syukur alhamdulillah dapat
diterima. Berangkat dari situlah Ayahku mendapatkan batu loncatan pekerjaan
yang lebih mapan. Selama pendidikan di militer
uniknya, jika sakit panas obatnya hanya makan lebih banyak dan saat
pendidikan
hanya membawa uang secukupnya, jadi tidak sampai mengeluarkan
uang untuk jajan.
selain itu,
tanggung jawab seorang anggota militer yang ditugasi sebagai penanting. Penanting adalah anggota
militer yang ditugasi untuk penanggung
jawab melayani makanan
yang sudah tersedia di dapur umum untuk diberikan kepada
seluruh anggota.
Jika ada nasi lebih (nasi layak untuk dimakan) maka nasi tersebut dikumpulkan dan diberikan
kepada petani yang bekerja di belakang tempat pendidikannya. Atas rasa syukur dan terima
kasih
petani
tersebut sering memberi hasil pertaniannya. Hal seperti itu dilakukan
sampai akhir pendidikan.
Setelah
lulus pendidikan
Ayahku di tempatkan
tugas di
Wing Udara I Pusat
Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Dharma Jalakaca Putra Juanda tepatnya
di Skuadron 600
yang mempunyai motto Tanggap (cepat merespon), Tanggon (cepat melaksanakan),
dan Trengginas (bekerja dengan capat/lincah). Mulai dari lulus pendidikan
hingga sekarang Ayahku tidak pernah dipindah tugaskan karena di skuadron 600
ini adalah daerah yang sangat disiplin, dedikasi, dan loyalitas tinggi, jika sikap
atau etika setiap anggota tidak sesuai dengan aturan atau tidak disiplin pasti
akan dipindah tugas. Beliau disana tinggal di mess, ketika menjalani kehidupan di
mess
ada beberapa anjing liar yang berkeliaran di
pelantaran ruang makan,
anjing-anjing itu selalu diberi makan
hingga beranak-pinak.
Ketika anjing tersebut sudah besar-besar
untuk dipotong dan dimakan oleh teman-temanya (makhlum teman letingnya dari
berbagai penjuru nusantara dari Sabang sampai Merauke) dan Ayahku tidak
sedikitpun memakannya. Proses
memberi makan anjing dilakukan
lebih kurang 10 tahun. Kegiatan yang dilakukannya selain itu, sewaktu weekend
atau pesiar
tiba tepatnya hari rabu, sabtu, dan minggu beliau menonton film atau bioskop di
Delta Sidoarjo
bersama kawan letingnya setelah
menerima uang gaji,
dari sebagian uang itu disisihkan untuk diberikan fakir
miskin dan
uniknya
setiap
perjalanan mulai dari gedung bioskop sampai pasar Sidoarjo dengan
berjalan kaki mencari orang yang kurang
mampu. Selain itu sebelum makan siang juga
mencari orang yang sangat kurang
mampu dengan naik sepeda kayuh dengan
rute mulai dari Juanda, Betro, Aloha, Gedangan, kemudian
kembali ke Juanda. Sebelum menikah
atau ketika bujangan
Ayahku juga sempat mempunyai
dua anak asuh dan menyekolahkannya sampai mereka SMA.
Pada masa-masa pencarian
pendamping hidup, beliau juga melakukan pendekatan lewat teman letingnya yang
mempunyai adik atau saudara. Dengan tujuan agar mengetahui karakter mana yang
cocok dengannya.
Setelah pencarian berakhir, pada tahun 1987 Ayahku
menikah
dan mendapatkan seseorang
gadis cantik jelita parasnya yang bertempat tinggal di Sidoarjo yaitu Ibuku tercinta.
Dalam menjalani rumah
tangga, sepertiga gaji yang
didapat Ayahku diberikan ke orang tuanya untuk menyekolahkan adik-adiknya.
Hal itu dilakukan atas
seizin istrinya.
Ayahku adalah seseorang yang mempunyai sifat mau melepaskan
kepemilikannya yaitu
rela sebagian uang gajinya diberikan kepada adik-adiknya
demi melanjutkan sekolah
mereka.
Biaya-biaya sekolah tersebut disamping dari uang gajinya,
Ayahku mendapatkan
pemasukan yang lain dari tugas terbang yang rutenya dari Sabang sampai Merauke.
Beliau sangat
bersyukur
karena adiknya yang ke-2 sampai pendidikan SMEA, ke-3
sampai S1
Pendidikan Olahraga
FIK Unesa, ke-4 sampai pendidikan S1 Teknik Informatika ITS, dan
yang terakhir sampai pendidikan
Diploma Ahli Madya (D3)
Universitas Brawijaya.
Banyak pelajaran yang dapat diambil salah satunya yaitu Hidup dalam pengabdian
dengan segala aspek kehidupan untuk abdi masyarakat dan Negara. Ayahku
mempunyai dua orang anak yaitu kakak perempuanku yang berparas cantik jelita
sekarang berkarir di Dinas
Pendidikan, Education of Inclusi at
Wonokusumo X Elementary School Surabaya
dan yang kedua
sedang studi pendidikan di Universitas Negeri Surabaya konsentrasi pada prodi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ayah, Ibu inilah
persembahan puisi yang kulantunkan untukmu:
Walau Jiwaku bisu, masih kuingat namamu sampai darahku diam membeku.
.
Ayah, kau hutan
paling sempurna, yang sanggup menyerap semua hujan yang turun dari mataku, saat
sebaya yang ingin kujadikan teman menolak. “Kau
berbeda, kau tersesat, dan akan pergi ke neraka,” kata mereka padaku. Aku
tak mengerti, siapakah yang pantas menentukan surga atau neraka, tetapi aku tak
peduli, sebab aku akan mengikutimu ke mana pun pergi, seperti aku percaya pada
kasih sayangmu.
•◦◦•..Ayah..•°◦˚˚◦°•..Ibu..•°◦˚˚◦°•..Love..•°◦˚˚◦°•..You..•◦◦•
Ibu, mentari pun tersenyum
pada kita, seperti tanganmu yang serupa doa, membimbingku ke ranah sembah. “Di sini Tuhan kita tinggal, Nak,”
ujarmu. Aku tak mengerti, tapi kau adalah perempuan pertama yang rela menyabung
nyawa agar aku bisa mengenal dunia, maka aku mengikutimu, seperti aku percaya
pada cintamu.
Ayah,,,
Hari ini ulang tahun Ayah yang ke
50 tahun
Tapi aku semakin tak mengerti,
siapakah yang sebaiknya kuikuti dan kuteladani.
Apakah terus mengikuti kalian, orangtuaku,
yang mengajarkan indahnya cinta dan kasih sayang, ke tempat yang paling di
takuti orang-orang itu, atau aku harus mengikuti mereka, orang-orang yang
meminjamkanku napas selepas kalian pergi, yang juga membakar kalian di hari
itu, berjanji akan menuntunku ke Surga?
Sukses selalu Ayah, semoga sehat sampai
akhir hayatku, agar anak-anakku kelak bahagia bermain bersamamu Ayah dan Ibu..
Kau adalah panutanku hingga
darahku diam membeku dan aku harus membuktikan kepadamu bahwa aku bisa
menaklukkan semua ini.
Setiap sujudku selalu terselip
nama Ayah dan Ibu di setiap sepertiga malamku dan setiap langkahku ku selalu
berdoa dan berusaha menunjukkan yang terbaik kepadamu Ayah.
Disetiap waktu selalu terngiang
suara tegasmu di selaput gendang telingaku ucapan yang tiada hentinya kau
lantunkan yaitu “Hidup adalah pilihan, terserah Anda kau gunakan untuk apa
hidupmu”
Kata itu yang selalu melekat
dalam sel otakku :*
Terima
kasih Ayah Kau selalu ada buat aku ..
آمِيّنْ
آمِيّنْ يارب العالمينَ
AYAH dan IBUKU
Keadaan semua terlelap
Dalam selimut malam yang dingin
Ditemani hiburan rintik kecil dari langit sepi
Menciptakan bunyi tapi sunyi
Dalam suasana berselimut malam
Semua merasa kehangatan
Tapi aku di sini sendiri
Mendendangkan kesepian dalam
kesepian
Di bawah layar biru dengan sinar lampu,
Sepintas angin rindu menyapa kulitku
Semakin dingin dan kaku
Aku hanya bisa memainkan
bibir kerdil
Mataku terkejut
Beliau selalu membayang-bayangi
hitamku
Di sana ada
Di sini juga berada
Seperti malaikat yang selalu
menjaga
Beliau tak sempurna
Bukan jiwa, tapi tonggak yang
menghidupkan jiwa
Mengkayuh tiga roda
Demi menyambung napas keluarga
Inilah beda..
Yang lain berkaki dua, penuh
tanda tanya
Tapi, beliau berkaki satu,
sempurna
Satu sempurna
Dua seakan sirna
Beliau ada di mana-mana
Itulah Ayah dan Ibuku :*
»̶•̵✽⌣•♧♈̷̴♡̬̩ƗƗäρρЧ̲͡ ϐΐяtƗƗϑäЧ̲͡°♡̬̩♈̷̴♧•⌣•̵«̶
┏̲H̶̲̅A̶̲̅P̶̲̅P̶̲̅Y̶̲̅ B̶̲̅I̶̲̅R̶̲̅T̶̲̅H̶̲̅D̶̲̅A̶̲̅Y̶̲̅┓̲50 th Ayah best wishes for you :*
se♍♡gα:
☑ Ƥanjang Ưmur
☑ Selalu diberikan Ƙesehatan
☑ ♏urah Ʀezeki dan dimudahkan segala urusannya
☑ Panjang pertaubatan
☑ Menjadi pribadi ƴang lebih baik dari sebelumnya
☑ Ƥanjang Ưmur
☑ Selalu diberikan Ƙesehatan
☑ ♏urah Ʀezeki dan dimudahkan segala urusannya
☑ Panjang pertaubatan
☑ Menjadi pribadi ƴang lebih baik dari sebelumnya
☑ Semoga apa yang Ayah harapkan bisa tercapai
☑ Şukses Śelalu
☑ Finally wish you all the best for you Ayahku sayang :*
☑ Finally wish you all the best for you Ayahku sayang :*
Sukses Ayah!! Ayahku Pasti Bisa Menjadi Nomor 1 :D
Doakan kedua anakmu ini sukses ya, Ayah dan Ibu :*
☆˚◦°•˚◦♥ O:)Aäмiiëπ ♥◦˚•°◦˚☆
4 komentar:
waaahh bnyak e ndruu isine :o
Dari: Indra Asnianto (12020074010/PA 2012)
hehe.. Terima kasih Bogie sudah memberi komentar :) :D
Tulisanmu jg tidak kalah banyak isinya dan bagus ;)
yang terpenting harus selalu semangat dalam mengawali menulis ;) haha
Jare riris :Tulisane ngebek i blogger, akeh autotext e sisan -_- koyok cabe-cabean. Hwakakaka
Teing ah lier loba teing
Posting Komentar