Pak Y, Ayahku yang Hebat
Pada hari jum’at
ketika aku kuliah tiba-tiba mendapat telepon dari Aqfy kalau Pak Y, panggilan
sayangku untuk ayah, sudah dalam pejalanan menjemputku di Surabaya. Padahal
kondisi cuaca sedang tidak bersahabat karena hujan abu Gunung Kelud. Pak Y tak
mengenal kata capek untuk menjemputku.
Setelah dua jam
perjalanan, Pak Y pun telah tiba di kosku. Baru sampai di kos aku langsung
melanjutkan perjalanan lagi untuk kembali pulang. Di atas sepeda motor seperti
biasa aku mendengarkan musik lewat handphone.
Pak Y mencubitku untuk memastikan aku tidak tidur. “Ya Allah yah, sakit lo”,
protesku. Ayah hanya tersenyum.
Setelah melewati
perempatan Duduk Sampean ada kejadian yang sedikit membuatku trauma. Ada sepeda
motor yang menyrempet setir sepeda motor ayahku. Sepeda yang kami tumpangi
oleng dan menyrempet truk. Kami pun terjatuh, kakiku terjepit sepeda motor.
Pak Y masih
sempat mengangkat sepeda motor dan menyelamatkan kakiku. Namun, setelah itu Pak
Y pingsan. Aku bingung, takut, dan cemas. Aku langsung menelpon Ibu. Ketika aku
akan membawa ayah ke Puskesmas terdekat ayah telah sadar dan tidak mau dibawa
ke Puskesmas.
Pak Y pun bangun
dan meminta langsung melanjutkan perjalanan. Selama di perjalanan aku menangis.
Aku memikirkan kondisi Pak Y. Sesampainya di rumah, ibu langsung berkemas untuk
membawa Pak Y ke rumah sakit karena Pak Y mengeluhkan rasa sakit di perutnya.
Di rumah akit
Pak Y pun menjalani pemeriksaan, ternyata tulang rusuk Pak Y retak. Sungguh aku
menyesal, karena Pak Y yang terluka sedangkan aku tidak mengalami luka
sedikitpun. Pak Y tak mau dirawat di rumah sakit karena Pak Y takut jarum
suntik.
Selang seminggu
kemudian ketika aku akan kembali ke rumahku. Aku mendapat SMS dari Pak Y yang
mengatakan akan menjemputku. Aku pun menolak tapi Pak Y memaksa. Tulang retak
bagi usia dewasa sulit untuk kembali. Tapi, itulah Pak Y ku, ayahku. Hingga
kini aku masih tak diizinkan untuk pulang ke rumah naik bus, begitupun pula
jika aku akan kembali ke Surabaya.
Ayah memang
teramat sayang padaku, jika kalian melihat film “Kuch Kuch Ho Ta Hai” itu menceritakan pula seorang ayah yang menyayangi
anaknya. Hanya karena anaknya terkena flu sang ayah langsung berangkat untuk
menemuinya. Begitu pula dengan Ayahku.
“Terima Kasih Ayah atas semua pengorbananmu,
Aku menyayangimu. Aku berjanji akan membuatmu bangga memiliki Aku”
Ainur Rakhmania Afifah Yaqin
122074211
0 komentar:
Posting Komentar