Minggu, 16 Maret 2014

Pak Y, Ayahku



Pak Y, Ayahku yang Hebat

Pada hari jum’at ketika aku kuliah tiba-tiba mendapat telepon dari Aqfy kalau Pak Y, panggilan sayangku untuk ayah, sudah dalam pejalanan menjemputku di Surabaya. Padahal kondisi cuaca sedang tidak bersahabat karena hujan abu Gunung Kelud. Pak Y tak mengenal kata capek untuk menjemputku.
Setelah dua jam perjalanan, Pak Y pun telah tiba di kosku. Baru sampai di kos aku langsung melanjutkan perjalanan lagi untuk kembali pulang. Di atas sepeda motor seperti biasa aku mendengarkan musik lewat handphone. Pak Y mencubitku untuk memastikan aku tidak tidur. “Ya Allah yah, sakit lo”, protesku. Ayah hanya tersenyum.
Setelah melewati perempatan Duduk Sampean ada kejadian yang sedikit membuatku trauma. Ada sepeda motor yang menyrempet setir sepeda motor ayahku. Sepeda yang kami tumpangi oleng dan menyrempet truk. Kami pun terjatuh, kakiku terjepit sepeda motor.
Pak Y masih sempat mengangkat sepeda motor dan menyelamatkan kakiku. Namun, setelah itu Pak Y pingsan. Aku bingung, takut, dan cemas. Aku langsung menelpon Ibu. Ketika aku akan membawa ayah ke Puskesmas terdekat ayah telah sadar dan tidak mau dibawa ke Puskesmas.
Pak Y pun bangun dan meminta langsung melanjutkan perjalanan. Selama di perjalanan aku menangis. Aku memikirkan kondisi Pak Y. Sesampainya di rumah, ibu langsung berkemas untuk membawa Pak Y ke rumah sakit karena Pak Y mengeluhkan rasa sakit di perutnya.
Di rumah akit Pak Y pun menjalani pemeriksaan, ternyata tulang rusuk Pak Y retak. Sungguh aku menyesal, karena Pak Y yang terluka sedangkan aku tidak mengalami luka sedikitpun. Pak Y tak mau dirawat di rumah sakit karena Pak Y takut jarum suntik.
Selang seminggu kemudian ketika aku akan kembali ke rumahku. Aku mendapat SMS dari Pak Y yang mengatakan akan menjemputku. Aku pun menolak tapi Pak Y memaksa. Tulang retak bagi usia dewasa sulit untuk kembali. Tapi, itulah Pak Y ku, ayahku. Hingga kini aku masih tak diizinkan untuk pulang ke rumah naik bus, begitupun pula jika aku akan kembali ke Surabaya.
Ayah memang teramat sayang padaku, jika kalian melihat film “Kuch Kuch Ho Ta Hai” itu menceritakan pula seorang ayah yang menyayangi anaknya. Hanya karena anaknya terkena flu sang ayah langsung berangkat untuk menemuinya. Begitu pula dengan Ayahku.

Terima Kasih Ayah atas semua pengorbananmu, Aku menyayangimu. Aku berjanji akan membuatmu bangga memiliki Aku”

Ainur Rakhmania Afifah Yaqin
122074211






0 komentar:

Posting Komentar