Tepat pada tanggal 28 November dua puluh tahun silam, kau
dengan sekuat tenaga dan seluruh rasa cintamu melahirkan seorang putri kecil. Putri
kecil itu aku, yang kini telah menginjak usia dewasa. Aku yang kini harus
berpisah jauh denganmu untuk menempuh pendidikan tinggi di Surabaya. Berat
rasanya berpisah jauh denganmu, Ibu. Ada perasaan tidak tega tatkala melihatmu
meneteskan air mata, saat pertama kali kau menghantarkanku ke Surabaya. Aku
berusaha tegar dengan tidak menangis agar kau tidak merasa sedih. Tapi sungguh,
berpisah denganmu adalah hal yang sangat berat untukku. Selama hidupku, tak
pernah sekalipun aku berada sangat jauh darimu. Ini adalah pertama kalinya. Tapi
aku sadar, ini adalah awal perjalanan hidupku.
Berpisah denganmu, membuatku mengenang akan masa kecil. Dua
puluh tahun sudah kau merawatku dengan segenap rasa cinta dan sayangmu. Perasaan
lelah,marah, hingga tangis tidak pernah kau suguhkan untukku. Hanya senyum yang
selalu kau tunjukkan padaku. Terkadang,
amarahmu muncul juga. Tapi aku sadar, itu karena aku memang bertindak sangat
keterlaluan.
Ibu, kau adalah sosok yang lembut dan pengertian. Jujur, aku
jarang sekali mencurahkan isi hatiku kepadamu. Entah ketika aku senang ataupun
ketika aku sedih. Namun ekspresiku tidak bisa membohongimu. Kau selalu mengerti
keadaanku. Kau seakan tahu jika aku sedang senang ataupun sedih. Seakan ada ikatan
batin diantara kita berdua. Ketika aku terlalu merasa senang akan suatu hal,
kau selalu mengingatkanku untuk mengontrol emosiku. Menasihatiku agar selalu
mengingat Tuhan. Agar selalu bersyukur kepada-Nya. Ketika aku sedang sedih
karena mendapatkan masalah,yang sangat nampak jelas dari raut mukaku, kau
datang dengan kedua tangan yang terulur untukku. Mencoba memelukku dengan
hangat. Penuh dengan kasih. Dan selalu menasihatiku agar jangan terlalu
bersedih dalam menyikapi suatu masalah.
Tatkala ku memasuki masa-masa dewasa seperti sekarang ini,
kau lebih sabar dalam menghadapiku yang dilanda ketidakstabilan emosi. Terkadang
kemarahan, tangisan, dan senyumanku,
bercampur menjadi satu. Membuat aku menjadi seperti orang lain. Tapi kau tetap
sabar dalam menenangkanku. Sekali lagi kau telah berhasil mengambil hatiku dan
membuatku tetap menjadi diriku sendiri.
Ketika berbicara mengenai apa yang sudah kuberikan untuk
seorang Ibu, rasanya aku harus berpikir lama. Bukan karena terlalu banyaknya apa yang telah kuberikan, tapi karena sedikit sekali yang sudah kuberikan untuk
ibuku. Seingatku, aku hanya pernah sekali memberinya hadiah pada saat Ibuku
ulang tahun. Itu karena Ibu selalu menolak ketika akan kuberi hadiah. Alasannya
lebih baik uangku di tabung untuk sesuatu yang berguna bagi sekolahku daripada
harus membelikan hadiah untuk Ibu. Karena menurut Ibu, hadiah itu sudah
didapatnya ketika melihatku berhasil. Aku tahu maksud Ibu baik, tapi kadang aku
merasa Ibu menolak pemberianku karena toh itu uang dari Ibu pula. Padahal aku
ingin sekali memberinya hadiah. Dan pada akhirnya aku pernah juga memberinya
hadiah. Hadiah itu berupa sebuah baju batik berwarna biru muda. Aku tahu,
hadiah yang kuberikan ini jika dilihat dari harga memang tidak seberapa. Tapi
aku ingin aku bisa memberikan sesuatu untuk Ibu dari uang tabunganku. Aku
merasa senang dan juga bangga karena ternyata Ibuku berkenan memakai baju batik
pemberianku. Walaupun aku merasa baju batik itu kurang cocok dikenakan Ibuku,
karena ukurannya terlalu besar. Tapi Ibuku tetap mau memakainya.
Ibu, entah sudah berapa banyak hal yang telah kau berikan
untukku. Entah sudah berapa kali kau berkorban demi aku. Sudah tak terhitung dan
tak ternilai lagi, Ibu. Dengan semua hal itu, apa yang sanggup aku beri
untukmu? Hanya sebuah baju batik?
Aku tahu Ibu, seberapapun aku berusaha untuk memberimu,
nampaknya itu tak akan cukup, Ibu. Hingga dewasa ini, aku belum berani menyebut
bahwa aku sudah pernah memberimu sesuatu yang setimpal dengan apa yang kau
beri. Tapi aku ingin kau tahu dan mengerti Ibu, bahwa aku sangat menyayangimu. Cinta
tulus ini kupersembahkan khusus untukmu. Aku berharap akan tetap bisa selalu
berada di sampingmu. Hingga maut memisahkan kita. I Love U Mom …
Farrasiffah Nabilah Mahdiyani
122074207 / PA 2012
0 komentar:
Posting Komentar