Minggu, 16 Maret 2014

Teruntuk Ibu Tersayang

Tepat pada tanggal 28 November dua puluh tahun silam, kau dengan sekuat tenaga dan seluruh rasa cintamu melahirkan seorang putri kecil. Putri kecil itu aku, yang kini telah menginjak usia dewasa. Aku yang kini harus berpisah jauh denganmu untuk menempuh pendidikan tinggi di Surabaya. Berat rasanya berpisah jauh denganmu, Ibu. Ada perasaan tidak tega tatkala melihatmu meneteskan air mata, saat pertama kali kau menghantarkanku ke Surabaya. Aku berusaha tegar dengan tidak menangis agar kau tidak merasa sedih. Tapi sungguh, berpisah denganmu adalah hal yang sangat berat untukku. Selama hidupku, tak pernah sekalipun aku berada sangat jauh darimu. Ini adalah pertama kalinya. Tapi aku sadar, ini adalah awal perjalanan hidupku.

Berpisah denganmu, membuatku mengenang akan masa kecil. Dua puluh tahun sudah kau merawatku dengan segenap rasa cinta dan sayangmu. Perasaan lelah,marah, hingga tangis tidak pernah kau suguhkan untukku. Hanya senyum yang selalu  kau tunjukkan padaku. Terkadang, amarahmu muncul juga. Tapi aku sadar, itu karena aku memang bertindak sangat keterlaluan.

Ibu, kau adalah sosok yang lembut dan pengertian. Jujur, aku jarang sekali mencurahkan isi hatiku kepadamu. Entah ketika aku senang ataupun ketika aku sedih. Namun ekspresiku tidak bisa membohongimu. Kau selalu mengerti keadaanku. Kau seakan tahu jika aku sedang senang ataupun sedih. Seakan ada ikatan batin diantara kita berdua. Ketika aku terlalu merasa senang akan suatu hal, kau selalu mengingatkanku untuk mengontrol emosiku. Menasihatiku agar selalu mengingat Tuhan. Agar selalu bersyukur kepada-Nya. Ketika aku sedang sedih karena mendapatkan masalah,yang sangat nampak jelas dari raut mukaku, kau datang dengan kedua tangan yang terulur untukku. Mencoba memelukku dengan hangat. Penuh dengan kasih. Dan selalu menasihatiku agar jangan terlalu bersedih dalam menyikapi suatu masalah.

Tatkala ku memasuki masa-masa dewasa seperti sekarang ini, kau lebih sabar dalam menghadapiku yang dilanda ketidakstabilan emosi. Terkadang kemarahan, tangisan, dan  senyumanku, bercampur menjadi satu. Membuat aku menjadi seperti orang lain. Tapi kau tetap sabar dalam menenangkanku. Sekali lagi kau telah berhasil mengambil hatiku dan membuatku tetap menjadi diriku sendiri.

Ketika berbicara mengenai apa yang sudah kuberikan untuk seorang Ibu, rasanya aku harus berpikir lama. Bukan karena terlalu banyaknya apa yang telah kuberikan, tapi karena sedikit sekali yang sudah kuberikan untuk ibuku. Seingatku, aku hanya pernah sekali memberinya hadiah pada saat Ibuku ulang tahun. Itu karena Ibu selalu menolak ketika akan kuberi hadiah. Alasannya lebih baik uangku di tabung untuk sesuatu yang berguna bagi sekolahku daripada harus membelikan hadiah untuk Ibu. Karena menurut Ibu, hadiah itu sudah didapatnya ketika melihatku berhasil. Aku tahu maksud Ibu baik, tapi kadang aku merasa Ibu menolak pemberianku karena toh itu uang dari Ibu pula. Padahal aku ingin sekali memberinya hadiah. Dan pada akhirnya aku pernah juga memberinya hadiah. Hadiah itu berupa sebuah baju batik berwarna biru muda. Aku tahu, hadiah yang kuberikan ini jika dilihat dari harga memang tidak seberapa. Tapi aku ingin aku bisa memberikan sesuatu untuk Ibu dari uang tabunganku. Aku merasa senang dan juga bangga karena ternyata Ibuku berkenan memakai baju batik pemberianku. Walaupun aku merasa baju batik itu kurang cocok dikenakan Ibuku, karena ukurannya terlalu besar. Tapi Ibuku tetap mau memakainya.

Ibu, entah sudah berapa banyak hal yang telah kau berikan untukku. Entah sudah berapa kali kau berkorban demi aku. Sudah tak terhitung dan tak ternilai lagi, Ibu. Dengan semua hal itu, apa yang sanggup aku beri untukmu? Hanya sebuah baju batik?

Aku tahu Ibu, seberapapun aku berusaha untuk memberimu, nampaknya itu tak akan cukup, Ibu. Hingga dewasa ini, aku belum berani menyebut bahwa aku sudah pernah memberimu sesuatu yang setimpal dengan apa yang kau beri. Tapi aku ingin kau tahu dan mengerti Ibu, bahwa aku sangat menyayangimu. Cinta tulus ini kupersembahkan khusus untukmu. Aku berharap akan tetap bisa selalu berada di sampingmu. Hingga maut memisahkan kita. I Love U Mom … 

Farrasiffah Nabilah Mahdiyani
122074207 / PA 2012

0 komentar:

Posting Komentar