Sabtu, 15 Maret 2014

NAFAS CINTA, IBU

NAFAS CINTA, IBU
(By: Ratna Dwi Lestari 002)

Hampir dua puluh tahun sudah aku menaungi liku-liku kehidupan ini bersamamu. Canda, tawa, tangis, haru semuanya bercampur menjadi satu mewarnai hidup ini. Hampir dua puluh tahun ini juga engkau selalu mengajariku tentang arti kehidupan. Nasehat-nasehat yang keluar dari mulut manismu selalu terdengar di telinga ini. Banyak hal yang membuatku merasa malu dan bersalah padamu, Ibu. Dari aku kecil engkau senantiasa merawatku dengan sentuhan yang lembut dan kasih sayangmu yang tulus. Tak ada kata lelah bagimu untuk merawat dan menjagaku. Pagi, siang, hingga larut malam pun engkau selalu terjaga hanya untuk diriku yang engkau anggap sebagai malaikat kecilmu. Engkau hampir tak punya waktu untuk mengurus dirimu sendiri hanya untuk bisa membuatku selalu merasa nyaman. Aku tahu, diwaktu aku menangis larut malam, engkau merasa jengkel, tapi senyuman tetap senantiasa engkau berikan kepadaku. Engkau rela terbangun dari mimpi indahmu hanya demi memberikan ASI padaku, mengganti popok ku dan menimang-nimangku hingga tubuh kecil ini tertidur kembali.
Ketika aku belum bisa berjalan karena tubuhku yang sangat lemah, engkau dengan sabar dan telaten mengajariku berjalan, setiap kali aku akan terjatuh engkau selalu menopang tubuhku karena kau tak ingin putri mu ini terluka. Engkau juga rela bangun dini hari demi membawaku ke dukun pijat dengan harapan semoga aku bisa cepat berjalan seperti yang lainnya. Tanpa engkau sadari berkat do’a dan kesabaranmu, tubuh lemah ini akhirnya bisa berjalan seperti layaknya anak seusiaku. Tak terbayangkan betapa bahagianya engkau ketika menyaksikan semua itu.
Di waktu aku mulai memasuki dunia pendidikan engkau selalu memberiku semangat yang luar biasa. Setiap pagi selalu bangun menyiapkan sarapan untuk ku, kemudian mengantarkanku menuju ke sekolah dengan harapan agar aku bisa memperoleh pendidikan yang bermanfaat buat aku ke depannya dan bisa melanjutkan sampai pendidikan yang tinggi.
Akhirnya, semua harapan dan do’a yang tak henti-hentinya engkau panjatkan setiap selesai shalat kini dapat terwujud. Aku dapat menempuh pendidikan seperti yang selama ini engkau inginkan. Meskipun awalnya engkau sempat tidak setuju dengan keputusanku untuk melanjutkan pendidikan di luar kota, dengan alasan takut apabila terjadi sesuatu padaku ketika nanti aku berada di kota orang tanpa sanak saudara. Akan tetapi, demi kebahagiaanku dan tidak ingin membuat aku kecewa engkau tetap mengijinkan aku untuk pergi ke luar kota. Aku tak tahu perasaan apa yang engkau rasakan pada saat memberikan ijin itu kepadaku. Senangkah atau sedih? Aku tak tahu semua itu. Yang aku tahu ketika aku hendak berangkat ke kota tetangga, engkau terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang harus aku bawa.
Air mata pun harus keluar membasahi kedua pipimu ketika menyaksikan kaki ini melangkah pergi untuk menempuh pendidikan yang engkau inginkan. Aku tahu engkau sangat berat untuk melepaskan diri ini pergi seorang diri ke kota tetangga. Pelukan yang engkau berikan ketika itu membuat ku merasa tak kuasa untuk menahan tangis. Air mataku pun akhirnya membasahi kedua pipi. Ketika itu dalam hatiku terucap janji kepadamu ibu, aku tak akan pernah mengecewakanmu, akan aku gunakan ijin yang engkau berikan dengan sebaik-baiknya.


Aku tahu hingga usiaku yang dewasa ini aku masih belum bisa membahagiakanmu. Masih belum bisa membalas semua pengorbanan dan kasih sayang tulus yang selama ini telah engkau berikan kepadaku. Masih banyak kesalahan dan khilaf yang telah aku lakukan kepadamu. Semakin dewasa usiaku, aku hanya bisa membuatmu semakin repot dan membuatmu sakit hati karena sikapku yang sering membantah dan luapan emosiku yang sering membuncah dihadapanmu. Aku sadar, tak sepantasnya aku berbuat seperti itu kepadamu. Setelah apa yang selama ini engkau berikan kepadaku. Masih sering aku menolak perintahmu yang  sebenarnya itu adalah hal yang sangat ringan. Ketika engkau sesekali memarahiku karena aku salah, aku justru semakin marah dan jengkel kepadamu. Padahal dibalik kemarahanmu itu tersimpan luapan rasa cinta yang tulus kepadaku.

Ibu, maafkan diriku yang sampai detik ini belum bisa memenuhi semua keinginanmu. Aku berjanji pada diriku sendiri suatu saat aku akan pulang dengan membawa segudang kebahagiaan untukmu. I LOVE YOU IBU:)

0 komentar:

Posting Komentar