NAFAS CINTA,
IBU
(By: Ratna Dwi
Lestari 002)
Hampir dua puluh tahun sudah aku menaungi liku-liku kehidupan
ini bersamamu. Canda, tawa, tangis, haru semuanya bercampur menjadi satu
mewarnai hidup ini. Hampir dua puluh tahun ini juga engkau selalu mengajariku
tentang arti kehidupan. Nasehat-nasehat yang keluar dari mulut manismu selalu
terdengar di telinga ini. Banyak hal yang membuatku merasa malu dan bersalah
padamu, Ibu. Dari aku kecil engkau senantiasa merawatku dengan sentuhan yang
lembut dan kasih sayangmu yang tulus. Tak ada kata lelah bagimu untuk merawat
dan menjagaku. Pagi, siang, hingga larut malam pun engkau selalu terjaga hanya
untuk diriku yang engkau anggap sebagai malaikat kecilmu. Engkau hampir tak
punya waktu untuk mengurus dirimu sendiri hanya untuk bisa membuatku selalu
merasa nyaman. Aku tahu, diwaktu aku menangis larut malam, engkau merasa
jengkel, tapi senyuman tetap senantiasa engkau berikan kepadaku. Engkau rela
terbangun dari mimpi indahmu hanya demi memberikan ASI padaku, mengganti popok
ku dan menimang-nimangku hingga tubuh kecil ini tertidur kembali.
Ketika aku belum bisa berjalan karena tubuhku yang sangat
lemah, engkau dengan sabar dan telaten mengajariku berjalan, setiap kali aku akan
terjatuh engkau selalu menopang tubuhku karena kau tak ingin putri mu ini
terluka. Engkau juga rela bangun dini hari demi membawaku ke dukun pijat dengan
harapan semoga aku bisa cepat berjalan seperti yang lainnya. Tanpa engkau
sadari berkat do’a dan kesabaranmu, tubuh lemah ini akhirnya bisa berjalan
seperti layaknya anak seusiaku. Tak terbayangkan betapa bahagianya engkau
ketika menyaksikan semua itu.
Di waktu aku mulai memasuki dunia pendidikan engkau selalu
memberiku semangat yang luar biasa. Setiap pagi selalu bangun menyiapkan
sarapan untuk ku, kemudian mengantarkanku menuju ke sekolah dengan harapan agar
aku bisa memperoleh pendidikan yang bermanfaat buat aku ke depannya dan bisa
melanjutkan sampai pendidikan yang tinggi.
Akhirnya, semua harapan dan do’a yang tak henti-hentinya engkau
panjatkan setiap selesai shalat kini dapat terwujud. Aku dapat menempuh
pendidikan seperti yang selama ini engkau inginkan. Meskipun awalnya engkau
sempat tidak setuju dengan keputusanku untuk melanjutkan pendidikan di luar
kota, dengan alasan takut apabila terjadi sesuatu padaku ketika nanti aku
berada di kota orang tanpa sanak saudara. Akan tetapi, demi kebahagiaanku dan
tidak ingin membuat aku kecewa engkau tetap mengijinkan aku untuk pergi ke luar
kota. Aku tak tahu perasaan apa yang engkau rasakan pada saat memberikan ijin
itu kepadaku. Senangkah atau sedih? Aku tak tahu semua itu. Yang aku tahu
ketika aku hendak berangkat ke kota tetangga, engkau terlihat sibuk menyiapkan
segala sesuatu yang harus aku bawa.
Air mata pun harus keluar membasahi kedua pipimu ketika
menyaksikan kaki ini melangkah pergi untuk menempuh pendidikan yang engkau
inginkan. Aku tahu engkau sangat berat untuk melepaskan diri ini pergi seorang
diri ke kota tetangga. Pelukan yang engkau berikan ketika itu membuat ku merasa
tak kuasa untuk menahan tangis. Air mataku pun akhirnya membasahi kedua pipi.
Ketika itu dalam hatiku terucap janji kepadamu ibu, aku tak akan pernah
mengecewakanmu, akan aku gunakan ijin yang engkau berikan dengan
sebaik-baiknya.
Aku tahu hingga usiaku yang dewasa ini aku masih belum bisa
membahagiakanmu. Masih belum bisa membalas semua pengorbanan dan kasih sayang
tulus yang selama ini telah engkau berikan kepadaku. Masih banyak kesalahan dan
khilaf yang telah aku lakukan kepadamu. Semakin dewasa usiaku, aku hanya bisa membuatmu
semakin repot dan membuatmu sakit hati karena sikapku yang sering membantah dan
luapan emosiku yang sering membuncah dihadapanmu. Aku sadar, tak sepantasnya
aku berbuat seperti itu kepadamu. Setelah apa yang selama ini engkau berikan
kepadaku. Masih sering aku menolak perintahmu yang sebenarnya itu adalah hal yang sangat ringan. Ketika
engkau sesekali memarahiku karena aku salah, aku justru semakin marah dan
jengkel kepadamu. Padahal dibalik kemarahanmu itu tersimpan luapan rasa cinta
yang tulus kepadaku.
Ibu, maafkan diriku yang sampai detik ini belum bisa memenuhi
semua keinginanmu. Aku berjanji pada diriku sendiri suatu saat aku akan pulang
dengan membawa segudang kebahagiaan untukmu. I LOVE YOU IBU:)
0 komentar:
Posting Komentar