Sabtu, 15 Maret 2014

"Malaikat Cantikku"

Malaikat Cantikku
Bangga. Satu kata yang selalu tak henti-hentinya kulantunkan untuk sang motivasi hidupku. Seorang malaikat cantik yang selalu menjadi tempat suka dan dukaku. Selalu bersama, meskipun raga tak bertemu namun jiwa selalu menyatu. Sang penyejuk hati dikala sendu melanda, itulah Mamaku, inspirasi hidupku.
Untaian kalimat ini memang tak ada bandingnya dengan untaian kalimat yang tak hentinya kau tuangkan dalam hati dan fikiran anakmu ini. Kata ini juga tak akan ada artinya dibandingkan sebuah perjuanganmu tanpa seorang suami selama sepuluh tahun lebih menghidupi tiga orang anak yang membuatku tak henti-hentinya memberikan kata Aku Bangga Jadi Anakmu Ma.
          Selama sembilan belas tahun lebih engkau membelai tubuhku hingga aku menjadi sosok yang baik dan lebih baik. Selama sepuluh tahun itulah semenjak kepergian ayah, engkau mampu menggantikan sosok itu dalam figurmu. Senyum yang selalu kau ukir mampu menemaniku menjalani hari-hari ini. Namun seumur hidupku tak pernah sekalipun aku membuatmu bangga. Tapi engkau tak pernah menunjukkan sikap kecewa ketika aku melakukan sebuah kesalahan. Engkau tetap tegar menjalani semuanya dengan senyuman. Mampu menutupi segala kesedihanmu di depanku.
          Mama, kemuliaanmu, pengorbananmu, dan kasih sayangmu yang mengalir deras di setiap hembusan nafasmu selalu menyejukkan hati, jiwa, dan fikiranku selama sembilan belas tahun ini. Mulai ketika tangan mungil ini tak bisa mengambil makan sendiri, kaki kecil ini tak bisa berjalan sendiri, hingga bibir ini bisa berkata Aku Sayang Engkau Ma. Semua yang telah engkau korbankan untukku untuk bisa membuatku menjadi remaja perempuan yang sempurna.
 Pengorbanan yang penuh dengan keikhlasan itu membuatmu menjadi sosok inspirasi dalam hidupku. Aku sadar, jika selama ini aku tak mampu membuatku tersenyum bangga. Aku tahu jika engkau ingin aku menjadi sosok wanita tegar, sukses, dan ikhlas dalam menjalankan kehidupan. Sama halnya seperti dirimu ma.
Sedih hati ketika mengingat bahwa aku tak mampu membahagiakanmu selama 19 tahun ini. Kadang dalam renungan kecilku terlintas dalam benakku, apa yang sudah aku lakukan untuk bisa membuatmu tersenyum. Rasanya aku hanya bisa membuatmu bersedih, meskipun kesedihan itu tak tampak dipelupuk matamu. Maafkan putrimu ini ma, selalu membuatmu sedih dan terluka. Maafkan juga jika aku selalu mengecewakanmu. Namun peganglah janjiku, kelak aku tidak akan membuatmu bersedih atas kelakuan burukku. 
          Aku berjanji, kelak ketika aku lulus dari perguaruan tinggi, aku akan membuatmu tersenyum bangga memiliki anak sepertiku. Aku akan membalas semua kebaikanmu meskipun aku tak mampu membalas dengan hal yang sama, namun aku akan berusaha dengan hatiku untuk membuatmu tersenyum bahagia. Aku berjanji tidak akan membuatmu kesepian di hari tuamu. Aku juga berjanji tidak akan memuatmu kecewa memiliki putri seperti aku. Aku selalu sayang malaikat cantikku, dialah Mamaku.
          
Rochma Wahyu Sri W.L.

122074031/PA 12

0 komentar:

Posting Komentar