Malaikat Cantikku
Bangga. Satu kata yang selalu tak henti-hentinya kulantunkan untuk
sang motivasi hidupku. Seorang malaikat cantik yang selalu menjadi tempat suka
dan dukaku. Selalu bersama, meskipun raga tak bertemu namun jiwa selalu
menyatu. Sang penyejuk hati dikala sendu melanda, itulah Mamaku, inspirasi
hidupku.
Untaian kalimat ini memang tak ada
bandingnya dengan untaian kalimat yang tak hentinya kau tuangkan dalam hati dan
fikiran anakmu ini. Kata ini juga tak akan ada artinya dibandingkan sebuah
perjuanganmu tanpa seorang suami selama sepuluh tahun lebih menghidupi tiga
orang anak yang membuatku tak henti-hentinya memberikan kata “Aku Bangga Jadi Anakmu Ma”.
Selama sembilan
belas tahun lebih engkau membelai tubuhku hingga aku menjadi sosok yang baik
dan lebih baik. Selama sepuluh tahun itulah semenjak kepergian ayah, engkau
mampu menggantikan sosok itu dalam figurmu. Senyum yang selalu kau ukir mampu menemaniku
menjalani hari-hari ini. Namun seumur hidupku tak pernah sekalipun aku
membuatmu bangga. Tapi engkau tak pernah menunjukkan sikap kecewa ketika aku
melakukan sebuah kesalahan. Engkau tetap tegar menjalani semuanya dengan
senyuman. Mampu menutupi segala kesedihanmu di depanku.
Mama, kemuliaanmu,
pengorbananmu, dan kasih sayangmu yang mengalir deras di setiap hembusan
nafasmu selalu menyejukkan hati, jiwa, dan fikiranku selama sembilan belas
tahun ini. Mulai ketika tangan mungil ini tak bisa mengambil makan sendiri,
kaki kecil ini tak bisa berjalan sendiri, hingga bibir ini bisa berkata “Aku Sayang Engkau Ma”. Semua yang telah engkau korbankan untukku untuk bisa
membuatku menjadi remaja perempuan yang sempurna.
Pengorbanan
yang penuh dengan keikhlasan itu membuatmu menjadi sosok inspirasi dalam
hidupku. Aku sadar, jika selama ini aku tak mampu membuatku tersenyum bangga. Aku
tahu jika engkau ingin aku menjadi sosok wanita tegar, sukses, dan ikhlas dalam
menjalankan kehidupan. Sama halnya seperti dirimu ma.
Sedih hati ketika mengingat bahwa aku
tak mampu membahagiakanmu selama 19 tahun ini. Kadang dalam renungan kecilku
terlintas dalam benakku, apa yang sudah aku lakukan untuk bisa membuatmu
tersenyum. Rasanya aku hanya bisa membuatmu bersedih, meskipun kesedihan itu
tak tampak dipelupuk matamu. Maafkan putrimu ini ma, selalu membuatmu sedih dan terluka. Maafkan juga jika aku selalu mengecewakanmu. Namun peganglah janjiku, kelak aku tidak akan membuatmu bersedih atas kelakuan burukku.
Aku berjanji,
kelak ketika aku lulus dari perguaruan tinggi, aku akan membuatmu tersenyum
bangga memiliki anak sepertiku. Aku akan membalas semua kebaikanmu meskipun aku
tak mampu membalas dengan hal yang sama, namun aku akan berusaha dengan hatiku
untuk membuatmu tersenyum bahagia. Aku berjanji tidak akan membuatmu kesepian
di hari tuamu. Aku juga berjanji tidak akan memuatmu kecewa memiliki putri
seperti aku. Aku selalu sayang malaikat cantikku, dialah Mamaku.
Rochma
Wahyu Sri W.L.
122074031/PA
12
0 komentar:
Posting Komentar